5 Legenda Menarik di Dieng

legenda dieng

Legenda Rambut Gimbal Anak Dieng

Sebuah keunikan yang tidak akan anda temukan di tempat lain adalah tentang rambut gembel (gimbal), rambut gimbal yang dimiliki oleh anak Dieng merupakan titisan dari Kyai Kolodete. Dahulu ada 3 orang kyai yang membangun serta menyebarkan ajaran agama islam di kota Wonosobo yaitu Kyai Walik, Kyai Karim, dan Kyai Kolodete. Di Dieng adalah tugas Kyai Kolodete untuk menyebarkan dan membangunnya, di ketahui Kyai Kolodete mempunyai rambut gimbal yang akhirnya moksa di Dieng tepatnya di gunung Kendil. Sampai sekarang belum ada penelitian ilmiah yang bisa membuktikan faktor genetik atau sebuah keturunan.

Legenda Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Jadi ada seorang putri cantik yang dilamar oleh dua kesatria tampan, namun karena bimbang untuk memilih salah satu dari dua kesatria tampan tersebut akhirnya sang putri memberikan syarat membuat sebuah telaga. Kedua kesatria tersebut akhirnya menerima syarat tersebut dan mulai lah membuat telaga dengan batas waktu yang telah di tentukan. Setelah batas waktu tiba akhirnya kesatria pertama berhasil membuat sebuah telaga dan menanglah kesatria pertama. Setelah dua hari menikah Putri pun berwisata ke Dieng sehingga melihat Telaga Pengilon, karena penasaran maka Putri tersebut menyuruh pengawalnya mencari tahu siapa pembuat Telaga Pengilon tersebut dan di ketahui pembuatnya tidak lain adalah kesatria kedua yang kalah dalam perlombaan. Putri pun akhirnya memanggil kesatria pertama dan mengutuknya menjadi naga untuk menjaga samudera, dan menjadikan kesatria kedua sebagai suaminya. Karena putri menilai telaga yang dibuat kesatria kedua mencerminkan hatinya yang jernih seperti cermin yang apa adanya tanpa sandiwara.

Legenda Tuk Bimo Lukar

Konon dahulu di tuk bimo lukar ini di gunakan tokoh pewayangan Bimo Seno untuk bertapa, karena pesan dari dewa maka Bimo melepas pakaiannya atau Lukar. Sehingga mata air ini juga masih dianggap keramat oleh warga sekitar. Dipercaya bahwa yang mencuci muka di tuk bimo lukar akan awet muda.

Legenda Kawah Sikidang

Pada zaman dahulu konon ada Sang Ratu yang mempunyai putri yang cantik jelita dan bagi siapa yang memandang akan jatuh hati padanya, tetapi karena seorang putri sehingga pemuda tidak ada yang mempunyai keberanian untuk meminangnya. Tetapi ada seorang Raja yang bernama Kidang Garungan yang melamar putri dari Sang Ratu, mendengar kabar tersebut Sang Ratu dan putrinya bahagia dan segera menemui Raja tersebut. Karena sosok Raja Kidang Garunganyang tinggi besar Sang Ratu dan putrinya pun melihat Raja dari ujung kaki sampai ke atas Kepala, alangkah kecewanya karena walaupun sakti dan gagah perkasa ternyata Raja yang melamar putri memiliki kepala seperti hewan kidang (Kijang). Karena takut menolak lamaran dari Raja Kidang Garungan maka Sang Ratu mengajukan syarat yaitu dengan membuat sumur yang sangat dalam. Singkat cerita Raja Kidang Garungan pun segera membuat sumur yang menjadi syarat, tetapi ketika sudah dalam Sang Ratu bersama bala tentaranya segera mengubur Raja Kidang Garungan tersebut sehingga terkuburlah Raja Kidang Garungan. Tetapi tidak sampai disitu saja, Raja pun mencoba mengeluarkan kesaktiannya berkali – kali untuk keluar dari sumur yang ia gali sendiri. Namun walaupun begitu tetap tidak bisa keluar dan akhirnya Raja Kidang Garungan mengutuk kalau keturunan Sang Ratu dan putrinya akan berambut gimbal.

Legenda Kawah Sileri

Konon dahulu kala ada Nenek yang akan menambah ilmu kesaktiannya dengan bertapa di gunung untuk menghindari segala keributan, serta kegaduhan yang di timbulkan oleh suara masyarakat desa sekitar. Nenek tersebut mendaki ke atas gunung dengan membawa tempurung berisi air cucian beras atau leri, air leri ini dimaksudkan agar suatu saat ada warga desa sekitar yang mengganggu tapanya maka akan di tumpahkan air leri tersebut dan dengan sekejap akan menjadi telaga. Tetapi karena tersandung batu, nenek tersebut jatuh dan tempurung yang dibawanya terjatuh ke bawah gunung dan segera menjadi kawah yang disebut Kawah Sileri. Nama Kawah Sileri sendiri diberikan karena air kawah yang seperti leri atau cucian beras.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*