Tuk Bima Lukar

tuk bima lukar

Tuk Bima Lukar adalah sebutan sebuah nama mata air yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Mata air Tuk Bima Lukar tersebut berasal dari titik tertinggi yang ada di Dieng Plateau yakni dari Gunung Prau dengan ketinggian 2.566 meter di atas permukaan laut. Dari sumber mata air di kaki Gunung Prau inilah kemudian mengalir ke arah yang disebut Bima Lukar.

Hulu Sungai Serayu

Tuk Bima Lukar juga merupakan hulu dari Sungai Serayu, sebuah sungai terpanjang dan melegenda di Propinsi Jawa Tengah yang membentang luas 181 km dan melintasi lima kabupaten yakni Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegera, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas hingga bermuara di Samudra Hindia yang berada di wilayah Kabupaten Cilacap.

Peninggalan Purbakala

Tuk Bima Lukar telah terdaftar kedalam direktori wisata Dieng Plateau karena termasuk peninggalan purbakala yang wajib dilestarikan. Hal ini tertandai dengan adanya situs Lingga serta situs Yoni. Lingga merupakan lambang kelamin laki-laki sedangkan Yoni adalah lambang kelamin perempuan. Mata air Bima Lukar mengalir dari lubang Lingga menuju lubang Yoni. Lingga di Tuk Bima Lukar ini memiliki bentuk unik yakni berukiran kepala gajah dan terdapat lubang di dalamnya sebagai tempat air mengalir. Tepat di bagian bawah Lingga terdapat batu datar persegi yang memiliki lubang bagian tengahnya yakni sebagai tempat menampung pancaran air dari lubang lingga.

Bertemunya air dari lubang Lingga menuju lubang Yoni di Tuk Bima Lukar juga sebagai symbolize kesuburan dan kemakmuran untuk wilayah Dieng. Makanya tanah yang ada di Dataran Tinggi Dieng termasuk ke dalam tanah subur yang dimanfaatkan oleh penduduk lokal setempat sebagai perkebunan atau pertanian khususnya tanaman kentang. Kebanyakan mereka juga memanfaatkan air yang bermuara di Tuk Bima Lukar ini untuk menyiram tanaman sayur mayur yang berada di area Dieng Plateau ke bawah menuju arah Wonosobo.

Selain sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran di area Dieng, Tuk Bima Lukar dipercaya memiliki berbagai khasiat diantarnya bisa membuat awet muda, enteng jodoh atau menjadi semakin cantik dengan membasuh muka atau meminum air Bima Lukar ini. Makanya banyak wisatawan yang tertarik dan menyempatkan diri untuk singgah ke mata air Bima Lukar. Ritual seperti itu sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram Hindu yaitu para peziarah selalu membersihkan diri atau membasuh muka mereka sebelum memasuki area Dieng Plateau atau seusai berkunjung ke Dieng yang bertujuan untuk membersihkan diri dan membersihkan hati yang kotor karena Dieng dianggap sebagai tanah suci tempat bersemahyamnya para Dewa.

Mata Air Suci

Tuk Bima Lukar juga dianggap sebagai air suci oleh umat Agama Hindu. Jadi tidak sedikit orang-orang berasal dari Bali mengunjungi Dieng yang dipercaya sebagai tanah nenek moyang mereka untuk mengambil beberapa titik sumber mata air termasuk air yang berada di Tuk Bima Lukar untuk kepentingan upacara adat mereka.

Lokasi Tuk Bima Lukar

Tuk Bima Lukar terletak di Desa Dieng Wetan sebelum masuk ke Dieng area. Tepatnya di sisi kanan jalan raya Wonosobo-Dieng km 26 terdapat gapura masuk area wisata. Mata air ini letakya agak menjorok ke bawah, jadi Anda diharuskan untuk menuruni beberapa anak tangga dan disamping kanan kirinya terdapat rimbunnya bunga terompet bergelantungan dan terkadang menimbulkan bau semerbak. Tibalah di area Tuk Bima Lukar dengan 3 bagian atau tingkatan yakni bagian paling atas area persembahyangan, kemudian area penampungan mana air yang dibuat kolam kecil dan yang terakhir ialah tempat mengalirnya air dari lubang lingga dan yoni berada, ditempat inilah para peziarah atau wisatawan membersihkan diri sebelum atau sesudah memasuki Dieng. Untuk menunjuang fasilitas di area wisata khususnya cagar budaya Tuk Bima Lukar, saat ini telah di bangun area parkir yang luas tepat di tepi jalan raya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*