Seputar Dataran Tinggi Dieng, Letak Geografis, Potensi Pertanian, Sosial Masyarakat dan Budaya

Letak Geografis Dieng

Dataran Tinggi Dieng terletak dibeberapa wilayah kabupaten yang ada di Jawa Tengah diantaranya yaitu Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Kendal, Temanggung, dan Batang. Namun secara administratif hanya dua kabupaten yaitu Dieng Wetan Wonosobo dan Dieng Kulon Banjaranegara.

Baca juga: Tempat wisata populer di Dieng.

Ketinggian rata-rata untuk Dataran Tinggi Dieng adalah 2.000 meter di atas permukaan laut. Dengan suhu udara berkisar antara 60 sampai 120 pada malam hari dan pada siang hari, suhu udara berkisar antara 120 sampai 200.

Potensi Pertanian Di Dataran Tinggi Dieng

Dieng yang sudah terkenal dengan kawasan wisatanya, juga mengandalkan lahan pertanian untuk lapangan kerja dan kehidupan sehari-hari. Kesuburan tanah Dataran Tinggi Dieng ini memang sangatlah menjanjikan untuk bercocok tanaman semusim.

Potensi alam pegunungan Dieng hanya khusus untuk pertanian sayuran seperti kentang, kol/kubis, wortel, daun bawang, dan seledri. Para petani membuat terasiring-terasiring untuk perkebunan mereka.

Produksi kentang Dieng mencapai 1,2 juta ton pertahunnya, menjadikan Dieng menjadi pemasok kentang terbesar di Indonesia. Kualitas produk kentang Dieng merupakan kualitas gred A terbaik diseluruh Indonesia.

Untuk tanaman kentang di Dieng tidak mengandalkan musim, jadi setiap saat bisa untuk menanam kentang maupun sayuran lainnya, setiap musim kemarau tiba, para petani mengandalkan air telaga yang ada di sekitar Dieng untuk penyiraman tanama-tanaman tersebut.

Kehidupan Sosial Masyarakat Dataran Tinggi Dieng

Kehidupan sosial masyarakat di Dieng Plateau ada yang berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umunya. Sebagai masyarakat desa pegunungan pada umumnya mereka hidup rukun, memiliki jiwa sosial tinggi, pekerja keras dan teposeliro, sesama tetangga bahkan dengan orang asing sekalipun.

Kebiasaan baik yang dimiliki oleh warga masyarakat Dieng tetap terjaga hingga sekarang. Gotong royong, kerja bakti dan berbagai kegiatan sosial lain seperti muyen (menjenguk bayi yang baru lahir) nyinom sunatan, nyinom nikahan, pengajian akbar, dilaksanakan dan dibantu oleh warga tanpa adanya punguntan biaya.

Budaya Dieng Turun Temurun Ruwatan Rambut Gembal Menjadi Daya Tarik Wisatawan

Budaya yang satu ini hanya ada di Dieng Plateau yaitu Ruwat Rambut Gembal. Ruwat dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah pulih kembali sebagai keadaan semula (tentang jadian-jadian, orang kena tulah).

Anak yang mempunyai rambut gembel ditandai oleh panas yang tak kunjung sembuh, mereka berumur sekitar 6 sampai 10 tahun. Setelah sembuh rambut satu dengan yang lain saling menyatu dan inilah yang disebut dengan rambut gembel dieng.

Agar rambut normal seperti sedia kala maka di adakan ruwatan rambut gembel yang diadakan oleh keluarga atau mengikuti upacara tahunan yang diselengarakan setiap tahunnya di komplek candi Arjuna.

Untuk acara Ruwat Rambut Gembal sendiri setiap tahunnya sudah ada acara khusus yang dikemas dengan apik yaitu DCF (Dieng Cultur Festifal) yang diadakan setiap awal bulan Agustus. Agenda DCF hampir sama setiap tahunya, dengan agenda acara Senandung/Jazz di Atas Awan, Kongkow Budaya, Aksi Dieng Bersih, Pagelaran Kesenian Tradisional Dataran Tinggi Dieng, Festifal Domba Batur, Java Coffe Festival, Pagelaran Seni Ketoprak, Kirab Budaya, Jamasan Rambaut Gembel, dan Pelarungan Rambut Gembel.

No Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *